Ketika kita berbicara tentang tren travelling Indonesia 2025, maka kita merujuk pada perubahan signifikan dalam cara orang memilih dan mengalami perjalanan di Indonesia — baik wisatawan domestik maupun mancanegara — yang didorong oleh faktor digital, keberlanjutan, pengalaman autentik, dan diversifikasi destinasi. “tren travelling Indonesia 2025” menegaskan bahwa artikel ini akan membahas bagaimana pola perjalanan, pilihan destinasi, dan preferensi wisatawan sedang berubah secara nyata.
Berdasarkan laporan TGM Research “Indonesia Travel Insights 2025” menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden di Indonesia kini lebih memilih untuk menyusun perjalanan secara mandiri dibanding bergantung sepenuhnya pada agen tur. TGM Research
Selain itu, pengamatan dari sektor pariwisata menggarisbawahi bahwa industri wisata di Indonesia sedang mengalami pemulihan yang kuat dengan pertumbuhan jumlah kunjungan, perubahan gaya perjalanan, dan investasi yang makin besar di destinasi alternatif. internationalinvestment.biz
Dengan demikian, tren travelling Indonesia 2025 bukan hanya soal “ke mana kita pergi”, tapi juga “bagaimana kita pergi”, “apa yang ingin kita alami”, dan “apa yang menjadi nilai perjalanan tersebut”. Dalam artikel ini, kita akan membahas tiga aspek utama: (1) Destinasi naik daun & gaya perjalanan yang berubah, (2) Preferensi wisatawan & teknologi dalam travelling, (3) Peluang & tantangan untuk pelaku wisata dalam konteks tren travelling Indonesia 2025.
Destinasi Naik Daun & Gaya Perjalanan yang Berubah
Dalam pembahasan tentang tren travelling Indonesia 2025, salah satu aspek paling mencolok adalah munculnya destinasi wisata alternatif serta pergeseran gaya perjalanan menuju pengalaman yang lebih autentik dan personal.
Menurut laporan Inside Look at Indonesia’s Tourism Revival, wisatawan domestik dan mancanegara makin tertarik ke lokasi-lokasi sekunder (beyond the big names) seperti Lake Toba, Mandalika, dan Labuan Bajo sebagai bagian dari upaya diversifikasi destinasi wisata Indonesia. InCorp Indonesia
Gaya perjalanan pun berubah: wisatawan bukan hanya mencari “berada di lokasi” tetapi ingin merasakan kegiatan yang lebih bermakna — misalnya penjelajahan budaya, wellness retreat, ekowisata, dan petualangan di alam bebas. Sebagai contoh, sebuah artikel menyebut tren seperti “stargazing”, “cool-cations” (liburan ke daerah pegunungan yang lebih sejuk), dan eksplorasi alam sebagai bagian dari tren wisata di Indonesia. Partner In Growth
Selain itu, gaya “do-it-yourself travel” makin populer: wisatawan merencanakan sendiri rute, akomodasi alternatif (seperti vila, homestay, glamping) dan mengutamakan fleksibilitas. Laporan TGM Research menyebut bahwa preferensi wisatawan Indonesia untuk mengatur perjalanan sendiri hampir mencapai 50 %. TGM Research
Dengan tren ini, destinasi yang dulunya kurang dikenal kini memperoleh perhatian besar — dan gaya perjalanan menjadi lebih personal, digital-savvy, dan nilai-terarah.
Preferensi Wisatawan & Teknologi dalam Tren Travelling Indonesia 2025
Membahas tren travelling Indonesia 2025, kita tidak lepas dari pengaruh teknologi, digitalisasi, dan preferensi wisatawan yang berubah — mulai dari cara memilih destinasi hingga bagaimana mereka berbagi pengalaman perjalanan.
Pertama, teknologi dan media sosial menjadi sumber inspirasi utama bagi banyak wisatawan. Dalam studi TGM Research disebutkan bahwa digital channels dan media sosial memainkan peran besar dalam bagaimana orang menemukan destinasi dan merencanakan perjalanan mereka. TGM Research
Kedua, pilihan akomodasi dan gaya penginapan berubah: wisatawan makin banyak memilih alternatif seperti vila, homestay, akomodasi berbasis pengalaman lokal, dan bukan hanya hotel bintang besar. Hal ini juga tercermin dalam laporan sektor pariwisata bahwa tingkat okupansi hotel mungkin turun, tetapi jumlah kamar terisi meningkat, karena ada diversifikasi jenis akomodasi. internationalinvestment.biz
Ketiga, wisata berkelanjutan (sustainable travel) dan pengalaman lokal (local experience) makin disukai. Wisatawan ingin lebih terlibat dengan komunitas lokal, menghargai budaya, dan melakukan aktivitas yang punya dampak positif terhadap lingkungan atau masyarakat sekitar. Artikel menyebut bahwa ini adalah bagian utama dari tren wisata 2025 di Asia-Pasifik termasuk Indonesia. travelpulse.com+1
Keempat, gaya perjalanan yang menggabungkan petualangan, wellness, dan budaya: misalnya trekking, stargazing, retreat di pegunungan, atau pengalaman kuliner lokal yang immersive. Tren seperti “cool-cations” (liburan ke lokasi yang lebih sejuk) juga makin populer. Partner In Growth
Dengan demikian, tren travelling Indonesia 2025 menggambarkan wisata yang lebih cerdas, terhubung secara digital, berbasis nilai dan pengalaman — bukan hanya lokasi atau objek wisata saja.
Peluang & Tantangan untuk Pelaku Industri Wisata
Ketika kita berbicara tentang tren travelling Indonesia 2025, penting juga untuk melihat implikasi nyata bagi pelaku industri wisata — dari destinasi, penyedia layanan, hingga komunitas lokal.
Peluang
-
Diversifikasi destinasi: Dengan munculnya destinasi sekunder, pelaku wisata memiliki peluang untuk mengembangkan lokasi-nya, menarik wisatawan yang mencari pengalaman baru, dan mengurangi tekanan pada destinasi utama.
-
Pengembangan pengalaman lokal: Paket wisata yang menawarkan interaksi budaya, pengalaman komunitas, ekowisata, atau wellness bisa mendapat daya tarik lebih besar karena sejalan dengan tren wisata 2025.
-
Digitalisasi dan personalisasi layanan: Dengan wisatawan yang lebih mandiri dan digital-savvy, penyedia layanan bisa memanfaatkan platform online, aplikasi, media sosial, dan teknologi untuk menyajikan pengalaman yang lebih menarik dan mudah diakses.
Tantangan
-
Kesenjangan infrastruktur: Ada destinasi yang potensial namun belum memiliki fasilitas transportasi, akomodasi, atau koneksi digital yang memadai — hambatan ini bisa memperlambat pertumbuhan.
-
Kualitas layanan dan pengalaman: Sekalipun destinasi baru muncul, jika layanan atau pengalaman tidak memenuhi ekspektasi wisatawan modern, hal itu bisa merusak reputasi.
-
Keberlanjutan dan dampak lingkungan: Tren travelling Indonesia 2025 berorientasi pada keberlanjutan. Pelaku wisata harus memastikan bahwa pertumbuhan tidak merusak lingkungan atau komunitas lokal — dan bahwa praktik wisata bertanggung jawab diterapkan.
-
Persaingan yang semakin ketat: Dengan teknologi yang mempermudah akses, destinasi di seluruh dunia bersaing untuk menarik wisatawan. Pelaku di Indonesia harus memiliki diferensiasi yang jelas, storytelling yang kuat, dan pengalaman yang unik agar menarik.
Dengan memahami peluang dan tantangan ini, pelaku industri dapat merespon dengan strategi yang tepat — untuk memanfaatkan momentum tren travelling Indonesia 2025 secara optimal.
Penutup
Tren travelling Indonesia 2025 menggambarkan sebuah transformasi dalam bagaimana kita melakukan perjalanan: dari sekadar “berlibur” menjadi pengalaman yang lebih bermakna, terhubung, dan sesuai dengan nilai kita—baik dari segi budaya, lingkungan, maupun teknologi.
Dengan destinasi yang makin beragam, gaya perjalanan yang lebih personal dan digital-terhubung, serta peluang yang besar bagi pelaku industri, maka tahun 2025 bisa jadi titik balik bagi wisata Indonesia. Namun, keberhasilan tidak otomatis — dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, komunitas lokal, pelaku wisata, dan wisatawan sendiri untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan dan berdampak positif.
Dengan mengenali tren travelling Indonesia 2025 dan menyeimbangkannya dengan tanggung jawab sosial-lingkungan serta kualitas layanan, Indonesia punya kesempatan besar untuk menjadi destinasi unggulan dan memberi pengalaman wisata yang tak terlupakan bagi semua pihak.
Referensi
-
TGM Research. “Indonesia Travel Insights 2025.” TGM Travel Report. TGM Research
-
“Tourism in Indonesia 2025: Trends and Risks.” InternationalInvestment.biz. internationalinvestment.biz
-
“From Stargazing to Coolcations, Indonesia’s Tourism is Glowing Up in 2025.” SevenStonesIndonesia blog. Partner In Growth
-
“The Travel Trends Taking Over 2025.” TravelPulse. travelpulse.com